Wayang Banjar: Tradisi Hiburan Sebelum Pesta Pernikahan
Di tengah hiruk pikuk pesta pernikahan zaman sekarang, masyarakat Banjar punya tradisi unik yang sudah berlangsung turun-temurun: menampilkan pertunjukan Wayang Banjar di malam sebelum pesta pengantin.
Ya, bukan live band atau DJ, tapi wayang kulit khas Kalimantan Selatan yang menjadi hiburan sakral sekaligus tontonan rakyat.
Apa Itu Wayang Banjar?
Wayang Banjar adalah bentuk seni pertunjukan tradisional yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Mirip seperti wayang Jawa, namun Wayang Banjar punya karakteristik tersendiri, mulai dari bentuk tokohnya, musik pengiring, sampai cerita yang dibawakan.
Cerita-ceritanya diambil dari epos besar seperti Ramayana dan Mahabharata, yang dibawakan dengan gaya dan dialek khas Banjar.
Mengapa Ditampilkan Sebelum Pernikahan?
Pertunjukan wayang ini biasanya digelar di malam hari sebelum resepsi pernikahan. Dalam tradisi Banjar, malam ini disebut “begawai” atau “mapatamuan”—yang berarti pertemuan atau pesta rakyat.
Tujuannya bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk:
Mengumpulkan keluarga besar dan masyarakat sekitar.
Mendoakan kelancaran dan keberkahan pernikahan.
Menyampaikan pesan moral melalui cerita-cerita dalam lakon wayang.
Biasanya pertunjukan ini berlangsung hingga dini hari. Dalang memainkan tokoh-tokoh dengan penuh penghayatan, diiringi gamelan khas Banjar dan selingan humor lokal yang mengundang tawa penonton.
Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Simbol Restu
Wayang Banjar dalam pernikahan punya makna simbolis yang dalam. Cerita yang dibawakan kerap mengandung nasihat pernikahan: tentang kesetiaan, tanggung jawab, pengorbanan, dan nilai-nilai hidup dalam rumah tangga.
Bagi keluarga penyelenggara, pertunjukan ini juga menunjukkan bentuk penghormatan kepada para tamu dan masyarakat sekitar.
Ancaman dari Hiburan Modern
Sayangnya, tradisi ini mulai terpinggirkan—khususnya di kota-kota besar. Banyak pasangan muda yang memilih hiburan modern dan menganggap wayang sebagai “kuno”.
Namun di beberapa desa dan komunitas adat, Wayang Banjar tetap dipertahankan. Pemerintah daerah, seniman, dan budayawan juga terus berusaha melestarikannya lewat festival, pertunjukan keliling, dan pengenalan ke generasi muda.
Menjaga Warisan, Merayakan Budaya
Wayang Banjar bukan hanya soal nostalgia, tapi warisan budaya yang menyatukan masyarakat Banjar dalam momen penting kehidupan.
Menghadirkan pertunjukan ini di malam sebelum pesta pernikahan adalah cara indah untuk tetap terhubung dengan akar budaya sendiri.
Referensi
Gusti Jamhar, Wayang Banjar: Eksistensi dan Transformasi Seni Pertunjukan Tradisional Banjar, Lambung Mangkurat Press, 2018.
Riza Fadillah, “Wayang Banjar dan Tradisi Masyarakat Banjar,” Jurnal Antropologi Kalimantan, Vol. 3 No. 2, 2020.
Wawancara dengan H. Jalil (Seniman Wayang Banjar), Tabalong, 2023.
Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, Dokumentasi Seni Pertunjukan Tradisional Kalimantan Selatan, 2021.
Gambar Rekomendasi untuk Highlight Artikel: Sumber: Antaranews Kalsel